Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Ekonom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonom. Tampilkan semua postingan
Teori ZigZag buatan Pak Habibie saat mengendalikan dollar

Teori ZigZag buatan Pak Habibie saat mengendalikan dollar



" ..Habibie's advocacy of a strange "zig-zag theory" of economics. He believed that cutting interest rates, then doubling them, then slashing them again, would reduce inflation. " ( TIme Magazine , June , 1998 )
Tulisan di bawah ini adalah status Facebook Pak Jusman Syafii Djamal, kini komisaris utama PT Garuda Indonesia. - 
See more at: http://unilubis.com/2015/03/12/jusma....j2Pgv7cL.dpuf

Tahun 1998 saya bekerja di IPTN. Tahun itu tahun yang amat sulit bagi perusahaan yang bergelut di proses pembuatan pesawat terbang. Kami menyebutnya sebagai tahun krisis. Ternyata kami tidak sendirian. Semua industri juga mengalami kesulitan. Orang menyebutnya sebagai tahun krisis ekonomi Asia. Sebabnya sepele semua ahli ekonomi menyebut Indonesia tahun 96,97 dan 98 adalah puncak pertumbuhan ekonomi. Tahun 95 kita sebagai bangsa baru saja melewati ulang tahun ke 50. Tahun emas kemerdekaan. Optimisme berkembang dimana-mana. Itu tahun 1995, tapi apa yang terjadi tiga tahun kemudian ??

Semua tak menyangka badai krisis akan menghantam semua optimisme. Tiga tahun kemudian di 98, Indonesia dilanda krisis. Awalnya sederhana nilai mata uang Bath di Thailand melemah terhadap dolar AS. Mata uang Bath turun secara drastis. Semua ekonom Indonesia bilang ah mengapa pusing yang lemah kan mata uang Bath, di Thailand. Ekonomi Indonesia tak mungkin terganggu. Potensi sumber daya alam banyak. Fondasi ekonomi kuat. Mengapa khawatir pada pelemahan nilai mata uang Bath. Apa yang terjadi di Thailand tidak mungkin merambat ke Indonesia. Kita punya benteng perekonomian kuat dan kokoh seperti Tembok China. Our line of defence sangat kuat. Dont worry be happy. Begitu kata semua orang pada Pak Harto yang saat itu sedang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Ketika ekonomi Indonesia collaps dan hancur berkeping di tahun 1998, semua ahli ekonomi maju ke depan. Yang tadinya bilang fondasi ekonomi kuat pada dua tiga tahun sebelumnya kemudian tampil dengan pelbagai teori. Intinya semua berkata :”apa abang bilang, memang kita rapuh. Padahal sudah abang peringati, tak ada yang peduli”. Tahun 1998 adalah “nightmare” mimpi buruk bagi perekonomian Indonesia. Turunnya mata uang Bath, memiliki efek domino pada mata uang rupiah. Ternyata dibalik kekokohan fondasi ekonomi yang disebut oleh para ahli dan secara kasat mata terlhat kokoh dan kuat tersembunyi kelemahan.

Ada lima pelajaran yang saya tulis dalam catatan harian saya berkenan dengan krisis ekonomi tahun 98. Saya membuat catatan karena kebetulan, pada tahun 1996 Prof Dr. Ing BJ Habibie, boss saya memberikan tugas menarik pada saya. Suatu hari di jumat pagi ketika saya sedang sarapan pagi bersama isteri saya, mesin fax saya berbunyi tat tut tit. Tanda ada fax masuk tapi kertas habis. Kemudian saya mengganti kertas sebab sudah kebiasaan biasanya kalau mesin fax hidup di hari jumat pagi, pastilah ada hal penting dari Pak Habibie, yang harus dikerjakan. Sebab beliau tidak ingin saya hanyut dalam liburan sabtu dan minggu. Kalau fax-nya panjang, Pasti ada perintah Boss berkenaan dengan analisa data. Fax tanpa telpon, artinya Assignment tak biasa .

Maklum di tahun 1996 saya baru ditunjuk menjadi Direktur Sistem Senjata dan Sistem Antariksa PT IPTN oleh Pak Habibie.

Benar saja, tak lama kemudian setelah kertas baru diinstall, mesin faks bekerja tanpa henti. Lembar demi lembar mengalir keluar. Isinya pelbagai angka dan catatan tangan yang khas. Catatan Prof Habibie di lembar kertas faks itu. Saya tau itu adalah “assigment” , tugas lain saya bukan sebagai Direktur Sistem Senjata, melainkan tugas sebagai seorang asisten. Sebagai “computational aerodynamics yang berfungsi membuat pelbagai simulasi model matematika” jika diperlukan. Lama saya mempelajari apa yang diminta, Yang tertera diatas kertas hanya simbol lambd, alpha dan gama serta psi, istilah variabel matematik yang amat digemari Prof Habibie kalau beri assignment pada saya.

Singkat cerita setelah itu selama lebih tiga bulan tanpa henti siang dan malam saya ternyata diminta oleh beliau membuat simulasi model matematika tentang kaitan suku bunga bank, inflasi, perubahan nilai tukar dalam perubahan tingkah laku kurva supply and demand dari dua jenis mekanisme pasar. Pasar terbuka dan pasar terkelola. Beliau memberi “pekerjaan rumah” untuk membuat simulasi model matematika dari kaitan antara fiskal and moneter dari lima negara Amerika, Jerman, Perancis, Jepang dan Indonesia.

Saya bukan ahli ekonomi. Pelajaran ekonomi saya ketika di ITB hanya diberikan oleh Prof Suharsono Sagir , Pengantar Ilmu Ekonomi. Saya dididik selama 10,000 jam tanpa henti oleh assignment Pak Habibie menjadi ahli perancangan pesawat terbang dan “computational/mathetemtical modelling aerodynmaics”. Karenanya dengan assigment tidak biasa ini, setiap hari saya harus membaca buku untuk memahami apa yang disebut dengan M1,M2 apa yang disebut dengan velocities of moneys, flux of money. Sebab intrument equation saya adalah pesawat terbang.

Fenomena pasar terkelola yang cenderung selalu stabil didekati dengan equation stability pesawat terbang komersial angkut penumpang, Boeing atau Airbus, Sementara fenomena pasar bebas di mana krisis, business cycle , fluktuasi, chaos bisa terjadi di tempat yang tak terduga didekati melalui simulasi gerak “instability and maneuverability” pesawat tempur F16 dalam “multi equilibirium” keseimbangan yang bersifat sementara dan cenderung ringkih jika tidak ada maneuver(yang fly by wire, perubahan cepat dikelola dalam setiap perubahan tingkat stablititas)

Awalnya karena saya tidak hini assigment apa, saya telah membuat semua data itu masuk ke dalam formula “systems dynamics” yang menggambarkan gerak tingkah laku pesawat terbang dalam pelbagai perubahan cuaca dan ketinggian terbang serta perubahan konfigurasi. Kita menyebutnya pendekatan “matriks koefisien pengaruh” dalam enam derajat kebebasan yang memperlakukan semua variabel, data dan angka tidak sebagai “just number” atau skala, melainkan sebagai suatu variabel yang dipengaruhi dan mempengaruhi variabel lainnya dalam perubahan ruang dan waktu. Tiap variabel menjadi vektor. Punya besar dan punya arah. Hasil kajian saya yang kemudian melahirkan dialog intens dengan Prof Habibie, melahirkan dokumen tebalnya 400 halaman. Semua berisi model matematika suku bunga, inflasi, dan nilai tukar dalam perubahan tingkah laku pasar. Prof Habibie kemudian menyebutnya sebagai Teori Zigzag dalam mengendalikan nilai tukar yang kemudian digunakan oleh beliau ketika menjadi Presiden ketiga ditengah krisis ekonomi tahun 98. Kalau kini saya teringat itu, kadangkala saya sering merasa sangat bersyukur mendapat kepercayaan Prof Habibie menjadi pengolah data dan pengembang model matematika selama hampir lebih sepuluh tahun sejak 1983 hingga 1996.

Pengalaman itu yang menyebabkan kini saya sedikit merasa hawatir melihat pergerakan rupiah yang terus melemah. Apalagi saya semakin lebih khawatir ketika semua Pemimpin penentu arah kebijakan ekonomi baik pengelola fiskal maupun pengelola moneter yang terlihat masih terus tertawa dan menyatakan “tidak apa apa, tidak apa”, Kita aman. Malah ada yang mengatakan kalau nilai rupiah terus merosot malah kita untung. Cadangan devisa meningkat, dan ekspor akan terus melaju “current account defisit” akan menyempit karena devisa masuk. Tahun 98 tidak sama dengan tahun 2015. Jangan hawatir. Kita telah banyak belajar dari tahun 98 dan dunia telah jauh berubah dibanding tahun 98. Krisis ekonomi adalah masa lalu dan dimasa kini Insya Allah krisis ekonomi tidak bakal dan tidak akan terjadi.

Sebuah optimisme yang bikin kita lega. Akan tetapi apakah benar demikian ?

Tahun 2015 adalah tahun pertama dari Pemerintahan Jokowi JK. Pada tahun ini terjadi suatu gejala ekonomi yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Harga minyak dunia turun drastis. Tiba-tiba persoalan beban subsidi dalam APBN hilang lenyap begitu saja. Berganti optimisme ada anggaran tersedia untuk membangun infrastruktur. Sebab subdidi BBM kini sudah dialihkan. Ini berkah. Akan tetapi muncul tekanan pertama secara perlahan tapi pasti nilai tukar rupiah terhadap dollar turun.

Hari kemarin menyentuh angka terendah sejak krisis ekonomi 98 yakni menyentuh pada angka Rp 13.000 rupiah. Angka yang melebihi asumsi APBN 12500. Perbedaan 500 rupiah per dolar yang tidak menghawatirkan kata pengelola Fiskal dan Moneter. Asumsi APBN berubah, kita masih tenang tenang. Alarm atau Early Warning Systems kita menyatakan aman. Bahkan ada yang berteori bahwa menurun hingga 15000 seperti tahun 1998 pun mungkin kita tidak apa apa. Ada Negara yang punya fenomena begitu Turki begitu argumennya. Menarik untuk disimak.

Bagi pelaku industri perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar merupakan sesuatu yang sangat ditakutkan. Kenapa?

Pertama, ia melahirkan ketidak pastian Top Line and Bottom Line akhir tahun. Revenue dan Profit menjadi sukar diprediksi. Sebab harga jual produk dipasar juga mengikutinya. Apalagi jika penurunan nilai tukar itu berfluktuasi sepanjang waktu. Harga produk di pasar akan mengalami “ajustment” sebab produk sejenis di pasar akan mengalami pasang surut. Terutama bagi industri otomotif dan elektronik.

Kedua, industri yang sedang melakukan proses modernisasi barang modal juga akan ketar-ketir. Barang modal berupa mesin dan alat peralatan utama pada umumnya adalah barang impor. Untuk membeli barang modal biasanya industriawan melakukan proses penyicilan. Hutang dibuat tahun 2012 dan 2013 ketika ekonomi membaik dan optimisme hadir. Pada saat hutang dibuat nilai dolar terhadap rupiah masih dalam kisaran Rp 9000, kini ketika hutang jatuh tempo terjadi nilai rupiah merosot ke angka Rp 13.000. Ada perbedaan Rp 4.000 rupiah. Hampir 50 % dalam tiga tahun. Itu berarti jika ada utang 1 juta dolar tahun 2013, utang itu bernilai Rp 9 Miliar . Kini utang itu menjadi Rp 13 Miliar. Tanpa ada problem kinerja perusahaan, utang meningkat hampir 50 %. Bayangkan jika ada perusahaan baik swasta maupun BUMN yang uutang ketika dolar bernilai Rp 9. 000 sebesar US 100 Juta dolar, yang berarti Rp 900 Miliar??? Pastilah kini ia harus merogoh kocek lebih dalam dengan nilai tukar dolar AS berharga Rp 13. 000, artinya ada tambahan utang Rp 400 Miliar. Mesin yang dibelinya jadi lebih mahal 50 %. Apalagi jika pajak dihitung dalam dolar AS. Ampun dah kata dirutnya.

Ditengah perubahan nilai tukar terhadap dolar berarti industri harus melakukan proses penyesuaian. Kurva penurunan nilai rupiah terhadap dolar harus dicermati setiap detik dan setiap hari. Sebab dampak terhadap peningkatan biaya operasi akan merangkah sepanjang waktu tanpa terasa. Diperlukan langkah sistematis dan berkesinambungan untuk proses efisiensi dan penurunan biaya operasi. Penurunan biaya ini kadangkala menyebabkan kekuatan penetrasi produk menyempit dan pada gilirannya profit mengkerut dan makin lama makin mengecil. Perusahaan yang tadinya tumbuh kini sedikit oleng. Seperti pesawat menghadapi cuaca buruk, ada goncangan yang tidak nyaman.

Ketiga, tagihan vendor luar negeri meningkat. Industri masa kini adalah industri global. Tidak mungkin ada industri manufaktur produk semua bahan mentah atau produk setengah jadi berasal dari Indonesia. Tidak mungkin industri Otomotif atau Industri Elektronik atau Industri Pesawat Terbang ataupun Tekstil bahan bakunya tidak ada yang diimpor. Kecil atau besar pastilah ada yang diimpor. Dari 3000 komponen mobil untuk melahirkan sebuah mobil paling tidak ada 1500 komponen yang diimpor. Impor berarti mengganti rupiah terhadap dolar. Nilai barang menjadi lebih mahal.Biaya produksi meningkat, daya kompetisi mengecil. Dengan kata lain setiap kenaikan harga dolar AS seribu rupiah yang disebut oleh Gubernur Bank Indonesia tidak mempunyai pengaruh, besar dampaknya bagi kekuatan industri dalam negeri yang strukturnya masih tergantung pada komponen impor. Dunia yang global ini menyebabkan Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh nilai tukar terhadap kekuatan industri dalam negeri.

Rumus :”Hope for the best prepare for the worst” menurut hemat saya perlu tetap dipegang. Lihat data dan fakta sebagaimana adanya. Analisa setiap perubahan angka rupiah terhadap dolar betatapun kecilnya. Sebab angka itu bukan sekedar angka statistik. Melainkan hasil interaksi pelbagai kekuatan pasar yang sedang bekerja. Kita berada dalam sistem yang memiliki kompleksitas. Krisis ekonomi bisa menyergap tanpa diundang, ketika semua orang tertawa lebar. Itu pelajaran economy crises tahun 1998, yang Insya Allah tidak akan terjadi. Mohon maaf jika keliru. Salam -

sumber :
http://unilubis.com/2015/03/12/jusman-sd-rupiah-melemah-mengapa-kita-tertawa/

Sejarah/Biografi Mata Uang Rupiah

Sejarah/Biografi Mata Uang Rupiah

Kita sebagai masyarakat Indonesia pasti pernah bertanya, sebenarnya kenapa mata uang Negara kita bernama Rupiah, bagaimana sejarah dan ceritnya sehingga pemerintah menetapkan nama Rupiah sebagai nama mata uang bangsa Indonesia.Berikut ini cerita singkat sejarah terbentuknya nama Rupiah terhadap mata uang Negara Indonesia.

Pemerintah memandang perlu mengeluarkan mata uang sendiri selain berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah juga dijadikan lambing utama Negara yang sudah merdeka. Perkataan “rupiah” berasal dari perkataan “Rupee”, satuan mata uang India. Indonesia telah menggunakan mata uang Gulden Belanda dari tahun 1610 hingga 1817. Setelah tahun 1817, dikenalkan mata uang Gulden Hindia Belanda.

Mata uang rupiah pertama kali diperkenalkan secara resmi pada waktu Pendudukan Jepang sewaktu Perang Dunia ke-2, dengan nama rupiah Hindia Belanda. Setelah berakhirnya perang, Bank Jawa (Javaans Bank, selanjutnya menjadi Bank Indonesia) memperkenalkan mata uang rupiah jawa sebagai pengganti.

Mata uang gulden NICA yang dibuat oleh Sekutu dan beberapa mata uang yang dicetak kumpulan gerilya juga berlaku pada masa itu.Tepatnya pada tanggal 2 November 1949 merupakan hari ditetapkannya rupiah sebagai mata uang resmi Negara Indonesia dan mata uang rupiah dicetak serta diatur pengunaannya oleh Bank Indonesia. Walaupun saat itu Kepulauan Riau dan Irian Barat memiliki variasi rupiah mereka sendiri tetapi penggunaan mereka dibubarkan pada tahun 1964 di Riau dan 1974 di Irian Barat.

Rupiah merupakan mata uang yang boleh ditukar dengan bebas tetapi didagangkan dengan pinalti disebabkan kadar inflasi yang tinggi . Mata Uang Baru dalam sejarah nilai uang fungsi dan jenis jenis uang serta pembuatannya ternyata mengalami banyak cerita dan sejarah yang panjang di negara indonesia Keadaan ekonomi di Indonesia pada awal kemerdekaan ditandai dengan hiperinflasi akibat peredaran beberapa mata uang yang tidak terkendali, sementara Pemerintah Republik Indonesia belum memiliki mata uang. Ada tiga mata uang yang dinyatakan berlaku oleh pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 1 Oktober 1945, yaitu mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda, dan mata uang De Javasche Bank.

Diantara ketiga mata uang tersebut yang nilai tukarnya mengalami penurunan tajam adalah mata uang Jepang. Peredarannya mencapai empat milyar sehingga mata uang Jepang tersebut menjadi sumber hiperinflasi. Lapisan masyarakat yang paling menderita adalah petani, karena merekalah yang paling banyak menyimpan mata uang Jepang.

Kekacauan ekonomi akibat hiperinflasi diperparah oleh kebijakan Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) Letjen Sir Montagu Stopford yang pada 6 Maret 1946 mengumumkan pemberlakuan mata uang NICA di seluruh wilayah Indonesia yang telah diduduki oleh pasukan AFNEI. Kebijakan ini diprotes keras oleh pemerintah Republik Indonesia , karena melanggar persetujuan bahwa masing-masing pihak tidak boleh mengeluarkan mata uang baru selama belum adanya penyelesaian politik. Namun protes keras ini diabaikan oleh AFNEI. Mata uang NICA digunakan AFNEI untuk membiayai operasi-operasi militernya di Indonesia dan sekaligus mengacaukan perekonomian nasional, sehingga akan muncul krisis kepercayaan rakyat terhadap kemampuan pemerintah Republik Indonesia dalam mengatasi persoalan ekonomi nasional.

Karena protesnya tidak ditanggapi, maka pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan yang melarang seluruh rakyat Indonesia menggunakan mata uang NICA sebagai alat tukar. Langkah ini sangat penting karena peredaran mata uang NICA berada di luar kendali pemerintah RI, sehingga menyulitkan perbaikan ekonomi nasional. Oleh karena AFNEI tidak mencabut pemberlakuan mata uang NICA, maka pada tanggal 26 Oktober 1946 pemerintah Republik Indonesia memberlakukan mata uang baru ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai alat tukar yang sah di seluruh wilayah Republik Indonesia . Sejak saat itu mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda dan mata uang De Javasche Bank dinyatakan tidak berlaku lagi. Dengan demikian hanya ada dua mata uang yang berlaku yaitu ORI dan NICA. Masing-masing mata uang hanya diakui oleh yang mengeluarkannya. Jadi ORI hanya diakui oleh pemerintah Republik Indonesia dan mata uang NICA hanya diakui oleh AFNEI. Rakyat ternyata lebih banyak memberikan dukungan kepada ORI. Hal ini mempunyai dampak politik bahwa rakyat lebih berpihak kepada pemerintah Republik Indonesia dari pada pemerintah sementara NICA yang hanya didukung AFNEI.

Untuk mengatur nilai tukar ORI dengan valuta asing yang ada di Indonesia, pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 1 November 1946 mengubah Yayasan Pusat Bank pimpinan Margono Djojohadikusumo menjadi Bank Negara Indonesia (BNI). Beberapa bulan sebelumnya pemerintah juga telah mengubah bank pemerintah pendudukan Jepang Shomin Ginko menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Tyokin Kyoku menjadi Kantor Tabungan Pos (KTP) yang berubah nama pada Juni 1949 menjadi Bank tabungan Pos dan akhirnya di tahun 1950 menjadi Bank Tabungan Negara (BTN). Semua bank ini berfungsi sebagai bank umum yang dijalankan oleh pemerintah Republik Indonesia . Fungsi utamanya adalah menghimpun dan menyalurkan dana atau uang masyarakat serta pemberi jasa di dalam lalu lintas pembayaran.

Jauh sebelum kedatangan bangsa barat, nusantara telah menjadi pusat perdagangan internasional. Sementara di daratan Eropa muncul lembaga perbankan sederhana, seperti Bank van Leening di negeri Belanda. Sistem perbankan ini kemudian dibawa oleh bangsa barat yang mengekspansi nusantara pada waktu yang sama. VOC di Jawa pada 1746 mendirikan De Bank van Leening yang kemudian menjadi De Bank Courant en Bank van Leening pada 1752. Bank itu adalah bank pertama yang lahir di nusantara, cikal bakal dari dunia perbankan pada masa selanjutnya. Pada 24 Januari 1828, pemerintah Hindia Belanda mendirikan bank sirkulasi dengan nama De Javasche Bank (DJB). Selama berpuluh-puluh tahun bank tersebut beroperasi dan berkembang berdasarkan suatu oktroi dari penguasa Kerajaan Belanda, hingga akhirnya diundangkan DJB Wet 1922.

Masa pendudukan Jepang telah menghentikan kegiatan DJB dan perbankan Hindia Belanda untuk sementara waktu. Kemudian masa revolusi tiba, Hindia Belanda mengalami dualisme kekuasaan, antara Republik Indonesia (RI) dan Nederlandsche Indische Civil Administrative (NICA). Perbankan pun terbagi dua, DJB dan bank-bank Belanda di wilayah NICA sedangkan “Jajasan Poesat Bank Indonesia” dan Bank Negara Indonesia di wilayah Republik Indonesia . Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 mengakhiri konflik Indonesia dan Belanda, ditetapkan kemudian DJB sebagai bank sentral bagi Republik Indonesia Serikat (RIS). Status ini terus bertahan hingga masa kembalinya Republik Indonesia dalam negara kesatuan. Berikutnya sebagai bangsa dan negara yang berdaulat, Republik Indonesia menasionalisasi bank sentralnya. Maka sejak 1 Juli 1953 berubahlah DJB menjadi Bank Indonesia, bank sentral bagi Republik Indonesia. Krisis ekonomi Asia tahun 1998 menyebabkan nilai tukar mata uang rupiah jatuh hingga 35% dan dengan melemahnya mata uang rupiah keadaan perekonomian di Indonesia menjadi menurun.

Satuan di bawah rupiah
Rupiah memiliki satuan di bawahnya. Pada masa awal kemerdekaan, rupiah disamakan nilainya dengan gulden Hindia Belanda, sehingga dipakai pula satuan-satuan yang lebih kecil yang berlaku di masa kolonial. Berikut adalah satuan-satuan yang pernah dipakai namun tidak lagi dipakai karena penurunan nilai rupiah menyebabkan satuan itu tidak bernilai penting.
  • sen, seperseratus rupiah (ada koin pecahan satu dan lima sen) 
  • cepeng, hepeng, seperempat sen, dari feng, dipakai di kalangan Tionghoa 
  • peser, setengah sen • pincang, satu setengah sen • gobang atau benggol, dua setengah sen 
  • ketip/kelip/stuiver (Bld.), lima sen (ada koin pecahannya) 
  • picis, sepuluh sen (ada koin pecahannya) 
  • tali, seperempat rupiah (25 sen, ada koin pecahan 25 dan 50 sen) Terdapat pula satuan uang, yang nilainya adalah sepertiga tali. 
Satuan di atas rupiah 
Terdapat dua satuan di atas rupiah yang sekarang juga tidak dipakai lagi.
  • ringgit, dua setengah rupiah (pernah ada koin pecahannya) 
  • kupang, setengah ringgit 
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Rupiah
http://www.rumahuang.com/sejarah-mata-uang-indonesia/
http://www.beritaunik.net/unik-aneh/sejarah-mata-uang-indonesia-rupiah.html

Biografi Kwik Kian Gie

Biografi Kwik Kian Gie

Kwik Kian Gie (74 tahun) atau 郭建義 (mandarin: Guo Jianyi) merupakan pria keturunan Tionghoa yang lahir di Pati -Jawa Tengah, 11 Januari 1935. Ia seorang ahli ekonomi sekaligus politikus yang sangat disegani oleh kawan maupun lawan. Keteguhan pada nilai-nilai kebenaran dan nasionalisme serta selalu mengkritik hal yang salah, membuat Kwik Kian Gie tidak disukai mereka-mereka yang ’salah langkah’.

Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Kwik melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia selama setahun untuk tingkat persiapan. Kemudian tahun 1956, Kwik melanjutkan studi Nederlandsche Economiche Hogeschool, Rotterdam Belanda(1956-1963). Jiwa pengabdiannya pada negeri ini telah diwujudkan sesaat setelah Kwik lulus dari kuliahnya. Tahun 1963-1964 Kwik bekerja sebagai asisten atase kebudayaan dan penerangan pada Kedutaan Besar RI di Den Haag. Setahun kemudian menjadi Direktur Nederlands Indonesische Geoderen Associatie (1964-1965). Lima tahun selanjutnya menjadi Direktur NV handelsonderneming “Ipilo Amsterdam”.

Tahun 1970, di usianya ke-35, Kwik kembali ke tanah air. Selama setahun ia sempat menganggur. Dan di tahun 1971, Kwik terjun ke dunia bisnis dan mendirikan PT Indonesian Financing & Investment Company. Kepiawaianya dalam ekonomi bisnis, mendapat kepercayaan berbagai perusahaan memintanya menjadi pimpinan perusahaan. Pada tahun 1978, tercatat ada minimal 3 perusahaan yang dipimpin Kwik yakni sebagai Direktur sekaligus Pemegang saham PT Altron Panorama Electronic, Dirut PT Jasa Dharma Utama, dan Komisaris PT Cengkih Zanzibar.

Mulai tahun 1985 (24 tahun silam), Kwik telah menulis ide kreatif mengenai ekonomi di Harian Kompas demi mengedukasi persfektif masyarakat. Setelah cukup mapan (sudah kaya), pada usia 42 tahun Kwik resmi terjun ke dunia pendidikan dan pengamat ekonomi. Secara bertahap Kwik mulia meninggalkan dunia bisnis. Di bidang pendidikan, tahun 1987 bersama Djoenaedi Joesoef dari Konimex dan Kaharudin Ongko dari Bank Umum Nasional, Kwik mendirikan Institut Bisnis Indonesia (IBiI). Kwik pun dipercayai menjabat sebagai Ketua Dewan Direktur sejak pendiriannya.

Petualangan sebagai pengamat ekonomi Indonesia yang melihat dan mengamati langsung sistem pemerintah yang begitu korup dan sarat KKN serta otoriter di era Soeharto ‘memaksa’ Kwik harus terjun ke dunia politik. Berbekal pengalaman dan tulisan-tulisan beliau yang sangat populer di Kompas, Kwik terjun ke dunia politik bukan karena uang, melainkan ingin merubah Indonesia yang lebih baik. Ia rela melepas dunia bisnisnya : “Saya sudah punya cukup uang untuk membiayai semua yang saya inginkan,” katanya suatu kali kepada Matra. Kondisi ini sangatlah ironis dengan maraknya para politisi baru saat ini yang menjadi caleg/pilkada hanya lebih untuk meraup uang negara dan meningkatkan prestise. Kwik terjun ke dunia politik setelah dirinya mapan, dan ia konsisten memperjuangkan ilmunya (ekonomi dan pendidikan) untuk bangsa Indonesia…. Kembali sangat ironis…saat ini banyak yang menjadi caleg dengan hanya berlatar belakang ‘popularitas tampang/wajah’.

Di organisasi politik, ia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), sekaligus menjadi salah satu Ketua DPP. Selanjutnya Kwik diangkat menjadi anggota DPR dan ia pun sempat menjadi Wakil Ketua MPR. Pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Kabinet Persatuan Nasonal. Lalu pada masa presiden Megawati Soekarnoputri, Kwik terpilih kembali menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional merangkap Ketua Bappenas Kabinet Gotong Royong.

Pendidikan:
  1. 1955 SMA Bagian C
  2. 1956 FE-UI (Tk.Persiapan)
  3. 1956-1963 Nederlandsche Economiche Hogeschool, Rotterdam Belanda

Karir :
  1. 1963-1964 Staf Lokal KBRI di Den Haag
  2. 1964-1965 Direktur Nederlands Indonesische Geoderen Associatie
  3. 1965-1970 Direktur NV handelsonderneming "Ipilo Amsterdam"
  4. 1971-1974 Direktur PT Indonesian Financing & Investment Company
  5. 1978-1990 Direktur dan Salah Seorang Pemegang saham PT Altron Panorama Electronics
  6. 1978 Dirut PT Jasa Dharma Utama
  7. 1978 Komisaris PT Cengkih Zanzibar
  8. Sejak 1985 Pengamat/penulis ekonomi yang kreatif di KOMPAS
  9. 1987 Bersama Djoenaedi Joesoef dari Konimex dan Kaharudin Ongko dari Bank Umum Nasional,menggagas terbentuknya Institut Bisnis Indonesia (IBiI),dan bersama Yayasan Wit teven Dekker membentuk IBiI.Kwik menjabat sebagai Ketua Dewan Direktur sejak pendiriannya
  10. Anggota MPR/DPR-RI dan Wakil Ketua MPR-RI 1999.
  11. Menko Ekonomi Kabinet Persatuan Nasional 1999-2000
  12. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional & Ketua Bappenas Kabinet Gotong-Royong 2001-2004.

Karya :
1. 1993 Saya Bermimpi Jadi Konglomerat (Jakarta, Gramedia)
2. 1994 Analisa Ekonomi Politik Indonesia (Jakarta,Gramedia Pustaka Umum)

Organisasi:
Ketua DPP/Ketua Litbang PDIP

Ref :
http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/ministers/popup_biodata_pejabat.asp?id=522
http://nusantaranews.wordpress.com/2009/01/31/biografi-kwik-kian-gie-ekonom-tionghoa-yang-nasionalis/

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia